Hi quest ,  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Tech News

Tampilkan postingan dengan label WISATA RELIGI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA RELIGI. Tampilkan semua postingan

Keturunan Raja Sibegulaos perbaiki 'Mual' berusia ratusan tahun

Written By napitupulusipakko on Jumat, Juli 28, 2023 | Jumat, Juli 28, 2023



"Mual" (sumber mata air) berusia ratusan tahun di Lumban Sialaman, Kecamatan Muara Kabupaten Humbahas, Sumatera Utara dalam waktu dekat akan dipugar oleh Keturunan Raja Sokkal Barita (Sibegulaos) yang ada di Bona pasogit Kabupaten Toba.

"Mual ini merupakan Pauseang (pemberian) pihak Mertua / Hula-hula Raja Siburian kepada menantunya Sibegu laos, pada ratusan tahun lalu", kata Ketua Panitia Pemugaran, St. Pangondian Napitupulu di Balige, Minggu (24/1).

Mual Pauseang ini, cukup jauh dari pinggiran desa Simatupang kecamatan Muara, persis di bawah pohon Bintatar (Beringin) kokoh dan diyakini sumber mata airnya tidak pernah habis sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang.

Debit airnya mampu memenuhi kebutuhan ribuan warga desa Simatupang sekitarnya serta mensuplai kebutuhan air untuk puluhan hektar persawahan penduduk.

St Pangondian bertutur, Mual ini memiliki nilai sejarah bagi Pomparan marga Napitupulu, karena merupakan pemberian hula-hula Raja Siburian, manakala putrinya dipersunting Raja Sokkal barita, berawal dari suguhan makanan unik dan tidak lazim dikonsumsi manusia yang diberikan Sokkal Barita kepada Raja Siburian.

Ketika Sokkal Barita menunjukkan tudu-tudu sipangonon (pertanda daging berasal dari mana), seraya bercampur geram dan amarah Raja Siburian harus rela menyerahkan putrinya jadi istri Sokkal Barita sembari mengumpat dalam bahasa Batak "begu solaos" (setan alas, pergi lah). 

Sejak itu pula Sokkal Barita memiliki sebutan menyeramkan "Sibegu Laos". Raja ini memiliki tiga anak laki-laki yakni Raja Sipakko di Parparean-Porsea, Raja Sieang (Parsambilan, Silaen) dan Raja Muliaraja umumnya berdiam di kota Balige.

Untuk rencana pemugaran Mual Pauseang tersebut, Pangondian Napitupulu menjelaskan secara resmi perwakilan Pomparan Raja Sokkal Barita dari ketiga marga yang tinggal di bona pasogit (Sipakko, Sieang dan Muliaraja), telah meminta doa restu dari hula-hula Siburian pada Sabtu (23/1). 

"Sebagai Ketua Panitia Pemugaran terpilih bersama Sekretaris H. Imran dan Bendahara Effendy Napitupulu dibantu sejumlah pengurus yang disepakati, kami akan kerja sama dengan pelaksana dan bidang lainnya untuk mewujudkan rencana pemugaran ini dalam waktu dekat" sebutnya.

Sebelumnya, Panitia Pemugaran Mual Pauseang telah mengutus Hulman Napitupulu, Rudy, Martua, Togi dan Wilson Napitupulu sebagai perwakilan guna melakukan survey untuk pelaksanaan kegiatan selanjutnya.

Keturunan Raja Siburian di Lumban Sialaman-Muara, menyambut baik rencana pemugaran Mual tersebut dan mereka menyampaikan apresiasi kepada "pamoruon" (pihak menantu) atas perbaikan sumber mata air yang akan dilaksanakan.

Seorang warga desa Simatupang Muara, Moken Siburian (62 thn) menyebutkan, pada tahun 1979 lalu, pihak keturunan Pomparan Sibegu Laos juga sudah pernah melakukan perbaikan Mual tersebut. 

"Kami menyambut baik rencana Pamoruon Pomparan Sibegu Laos untuk renovasi Mual Pauseang Ompung mereka, yang bernama Mual Ompu Mora Debata Datu Panggala ini", kata Moken Siburian.

Jumat, Juli 28, 2023 | 0 komentar

Cerita Orang Pertama yang Menginjakkan Kaki di Pulau Samosir

Written By napitupulusipakko on Rabu, Januari 04, 2017 | Rabu, Januari 04, 2017

Kekayaan obyek wisata di Sumatera Utara tidak terhenti pada pemandian air terjun, danau, gunung atau pantai, tetapi juga wisata budaya

Kekayaan obyek wisata di Sumatera Utara tidak terhenti pada pemandian air terjun, danau, gunung atau pantai. Tapi juga obyek wisata budaya dari penduduk yang terbilang unik dari kebiasaan penduduk mayoritas atau modern mengikuti zaman.

Seperti halnya yang menjadi daya tarik Sumatera Utara. Ada beberapa desa yang masih 'perawan' dengan mempertahankan tradisi sehingga tempat ini menjadi obyek wisata. Inilah desa di Sumatera Utara yang layak dikunjungi, jika anda tertarik wisata budaya.

Desa Ambarita yang berada di Pulau Samosir menjadi satu tempat wisata sejarah yang wajib dikunjungi karena kaya akan peninggalan sejarah di masa kepemimpinan Raja Sidabutar, tokoh yang dipercaya menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di pulau tersebut.

Di sana wisatawan bisa melihat dari dekat makam Raja Sidabutar, yang berusia 450 tahun sang penguasa Pulau Samosir. Dan rumah adat Batak yang masih terpelihara hingga sekarang.

Tidak jauh dari Tuktuk, wisatawan juga dapat melihat kekayaan budaya masyarakat Huta Siallagan yang cukup legendaris, yakni Batu Kursi Raja Siallagan "Stone Chair Of King Siallagan". Wisatawan akan melihat bebatuan yang dibentuk dan menjadi kursi raja, kursi persidangan dan batu eksekusi di zaman kerajaan Siallagan.

Memasuki Gapura yang bertuliskan Huta Siallagan, wisatawan bak disambut untuk menyusuri apa-apa saja yang menjadi kekayaan budaya marga Siallagan
Perkampungan ini dibangun pada masa raja huta pertama yaitu Raja Laga Siallagan. Kemudian diwariskan kepada Raja Hendrik Siallagan dan seterusnya hingga keturunan Raja Ompu Batu Ginjang Siallagan. Huta Siallagan sejak dahulu dihuni marga Siallagan, hingga sekarang masih dihuni juga oleh keturunan marga Siallagan.

Suasana berbeda saat mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir, Sumatera Utara, adalah pemandangan perkampungannya yang masih lekat dengan budaya. Khususnya pada bangunan pekuburan yang megah dan besar seperti rumah mewah atau tugu.

Hal itu menjadi pemandangan yang akan sering dilihat karena orang Batak menghormati leluhurnya dengan membangun Monumen atau Tugu dari Lelurnya (cikal bakal dari keluarga besar marga). Ada pula kuburan beton yang tinggi dan berbentuk rumah adat Batak.

Ada juga rumah unik, di Negeri Suah, terletak di Kecamatan Sibolangit, Deli Serdang, desa ini hanya memiliki 30-an kepala keluarga dan jauh dari modernisasi di tengah desa lainnya yang mengikuti kemajuan dunia.
Betapa tidak, wisatawan hanya akan melihat rumah panggung dari bahan papan dan tepas, dan mata pencaharian penduduknya yang mayoritas petani dan pencari ikan di sungai.
Warna rumah di desa tersebut pun selaras, semuanya warga papan dan tepas gelap, alias hitam keabu-abuan dan atap yang beberapa masih menggunakan rumbia.
Aron, penduduk, menuturkan rumah tersebut mereka percaya untuk menghormati tradisi turun menurun dari buyut mereka yang sudah melestarikan rumah panggung di desa mereka.
Ini bentuk kekompakan warga, jadi kalau ada yang mau bangun rumah baru pun ya harus berbentuk rumah panggung, yang paling modern paling dari bahan kayu dan tangga beton.
Ada juga rumah panggung di Pulau Asu, yang berada di Kecamatan Sirombu, Nias Barat, yang juga menjadi destinasi wisatawan yang ingin jauh dari rutininas alias kehidupan kota dan keramaian. Sebab, pengunjung pulau ditawarkan keprivasian seperti berada di pulau milik pribadi. Jarak rumah penduduk satu dengan penduduk lainnya bisa hingga 100 meter, rumah-rumah di sana juga masih 'perawan'. Terbuat dari tepas dan kayu dari belahan pohon kelapa.

Jika sudah ke Pulau Asu, Nias, maka Rumah Adat Desa Bawomataluo tidak boleh di lewatkan karena juga berada di kawasan Nias tepat Teluk Dalam. Rumah-rumah di desa tersebut merupakan rumah adat Nias yang masih kokoh dan terjaga kekhasannya tanpa perombakan modernisasi seperti rumah pada umumnya di zaman sekarang.


Rumah adat Nias tersebut bahkan sudah memasuki berusia ratusan tahun dan masih ditempati oleh keturunan penduduk pertama desa tersebut. Desa tersebut dibuka untuk wisatawan lokal hingga mancanegara, wisatawan yang datang tentu karena tertarik bangunan tua yang ada di sini. 
(Silfa Humairah/Tribunnews)
Rabu, Januari 04, 2017 | 0 komentar

Situs Kota Batak di Pesisir Pulau Bintan, Kepulauan Riau

Written By napitupulusipakko on Rabu, September 03, 2014 | Rabu, September 03, 2014

Situs Kota Batak di Pesisir Pulau Bintan, Kepulauan Riau




Photo. Pintu Gerbang ke Situs “Kota Batak” Bukit Kerang, Bintan

Situs “Kota Batak” merupakan sebutan untuk bukit Kerang sekitar 500 meter dari tebing Sungai Kawal di kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan. Masyarakat setempat kadang juga menyebutnya “Benteng Batak” yang menurut mereka dibangun oleh nenek moyang mereka ratusan tahun yang lalu untuk berlindung dari serangan pembatak atau perompak atau orang jahat, yang selalu menjarah penduduk di daerah utara pantai Pulau Bintan.

Kosa kata “batak” yang digunakan oleh penduduk setempat untuk menyebutkan bukit kerang tersebut tidak ada kaitannya dengan etnis Batak di Sumatera. Istilah “batak” terdapat pada kosa kata bahasa Melayu lama, yang maknanya sama dengan istilah pembatak yang dipergunakan dalam cerita teater tradisonal Makyong di Mantang Arang dan Kampung Keke Kijang, Kabupaten Bintan. Pembantak dalam cerita teater tradisonal tersebut diartikan sebagai orang jahat.

Keberadaan situs ini menurut arkeolog H.R. van Heekeren dan R, Sukmono, disinyalir adalah sisa peninggalan kebudayaan Bacson-Hoabin, salah satu cabang kebudayaan yang penting dalam zaman Mesolitikum di Indonesia; yang berkembang sejak 3000 tahun sebelum masehi. Karena situs yang mirip pernah ditemukan pada tahun 1907 di daerah Sungai Tamiang dekat Seruai. Kemudian pada tahun 1924 di daerah Batu Kenong, Aceh oleh JH Neuman. Selanjutnya, pada tahun 1927 di daerah Serdang Hilir Pantai Timur Sumatera.

Kemiripan situs-situs tersebut adalah adanyanya kemiripan tekstur tanah bukit kerang tersebut dengan bukit kerang yang ditemukan sebelumnya di Sungai Tamiang, Batu Kenong dan Serdang Hilir di daratan Sumatera. Bukit kerang ini diperkirakan merupakan timbunan sampah-sampah dapur dan sisa makanan masyarakat zaman dulu yang didominasi oleh kerang.

Kemudian kemiripan lainnya ditemukan berbagai artefak yang mirip yaitu ditemukan patahan mata kapak batu atau kapak pendek yang telah diasah atau diupam, alat cungkil atau spatula dari bahan tulang yang telah diasah salah satu ujungnya. Dan yang terpenting, pada situs Bukit Kerang Kawal Darat ini juga ditemukan pecahan gerabah yang dihiasi dengan pola yang sederhana yang tidak ada di tiga situs di Sumatera di atas.

Pada tahun 2009, sebuah penelitian dan ekskavasi awal yang dilakukan oleh Balai Arkeologi (BALAR) Medan menemukan tiga bukit kerang yang mirip di tiga lokasi di Kawal tersebut, selain di sungai Kawal diatas juga ditemukan sebuah bukit kerang lebih kecil terletak di kebun penduduk berhampiran kebun sawit milik swasta, sedangkan situs ketiga, yang agak lebih kecil lagi, terletak dalam areal kebun milik penduduk yang lokasinya berhampiran dengan lokasi situs kedua.

Kesimpulan sementara dari penemuan ini adalah bahwa di Pulau Bintan pernah hidup manusia zaman prasejarah yang mirip di sumatera. Manusia prasejarah inilah yang diperkirakan menghasilkan bukit kerang karena mereka tinggal di sekitar pantai dan muara sungai pada rumah-rumah bertonggak (rumah panggung). Hidup mereka berkelompok dengan mengumpulan bahan makanan berupa kerang (moluska) dalam berbagai jenis yang mudah ditemukan disekitar tempat tinggal mereka.Sisa-sisa kulit kerang yang mereka buang selama bertahun-tahun dan bahkan ribuan tahun itulah yang akhirnya menumpuk dan lambat laun menjelma menjadi sebuah bukit yang tingginya sekitar empat meter.

Hasil analisa arkeologis dan hasil pengukuran usia (carbon dating atau analisa carbon) terhadap sampel bukit kerang dan sisa-sisa arang yang diambil dari kaki bukit bagian luar situs ini menghasilkan angka periodesasi 1.680 BP (Before Present = sebelum sekarang). Bila dikonversikan kedalam angka tahun sejarah maka sama dengan tahun 333 Masehi, atau sama dengan abad ke-3 Masehi. Sebuah angka tahun yang masuk dalam babakan prasejarah dalam periode Mesolitikum di Indonesia.

Kesimpulan dari Tim BALAR Medan tersebut adalah adanya terkaitan antara hasil kerja tangan-tangan manusia pendukung budaya Bacsonian yang berkembang sejak dari Semenanjung Asia, Malaysia, Utara Sumatera, dan Pulau Bintan. Bahkan bisa jadi mereka adalah nenek moyang ras melayu lama.

Pemerintah Provinsi Kepulaun Riau umumnya dan Pemerintah Kabupaten Bintan khususnya seyogyanya agar dapat memberikan perhatian khusus kepada situs-situs bukit kerang yang ada di Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan ini. Karena keberadaan situs ini sangat penting untuk mengetahui jejak manusia prasejarah dan mengevaluasi ulang sejarah melayu di negeri ini. Salam.

Sumber. Dinas pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bintan dan lain-lain


Rabu, September 03, 2014 | 0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.

Manusia Batak

Categories

Pengunjung

Flag Counter

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *




Kunjungan Presiden RI

Event Sipakko

Daftar Blog Saya